Waktu


Senin, 28 Mei 2012


HUKUM AL LUQOTHOH (BARANG TEMUAN) DALAM ISLAM
Oleh: Fathurrahman Masrukan, Lc, MA
(Pengasuh Rubrik Konsultasi fiqh majalah An Nilein PPMI Sudan)

Dalam fiqh Islam Segala bentuk harta temuan, baik berupa hewan , makanan, benda berharga atau uang adalah masuk dalam kategori al luqothoh (اللقطة). Islam sangat concern untuk menjelaskan secara detail status “harta temuan” ini agar setiap muslim terhindar dari pemanfaatan harta yang tidak halal baginya. Adapun rincian hukumnya adalah sebagai berikut:
1.  Barang  yang kurang bernilai
     Apabila seseorang menemukan sesuatu seperti roti, pensil, uang recehan, atau sejenisnya maka bagi dia boleh memanfaatkannya untuk keperluan pribadi atau disedekahkan kepada orang lain. Riwayat Jabir -Radiyallahu anhu- mengatakan:
رخص رسول الله صلى الله عليه وسلم في العصا والسوط والحبل يلتقطه الرجل . رواه أبو داود
     Artinya: “Rasulullah -Shalallu alaihi wasallam- membolehkan mengambil tongkat, cambuk dan Tali bagi yang menemukannya.” (HR. Abu Dawud)
     Walaupun hadist ini Dhaif dari segi sanad tapi mayoritas Ulama fiqh mufakat dengan  keshahihan  content hadist yang menunjukkan di bolehkannya mengambil dan memanfaatkan barang temuan yang kurang bernilai.
2.  Barang yang bernilai
     Bagi seseorang yang menemukan barang seperti uang, emas, perak, belian, atau barang berharga yang lain maka dia boleh memilih dua opsi:
     Pertama: Mengambilnya dengan tujuan untuk dipublikasikan ke khalayak umum melalui sarana dan media yang ada dalam jangka waktu setahun. Bila tidak ada hasil, maka si penemu dibolehkan memanfaatkan atau menjual barang itu untuk keperluan pribadi atau menyedekahkan kepada orang yang membutuhkan dengan syarat apabila pemiliknya datang sewaktu-waktu maka si penemu wajib mengembalikan kepada pemiliknya.
     Kedua: Menyerahkan ke pihak berwenang atau institusi terpercaya agar dilakukan upaya-upaya publikasi secara maksimal. Hal ini dilakukan karena si penemu khawatir tidak bisa menjaga amanah hak orang lain.   
     Dalam kaitan ini Rasulullah memberi acuan dalam hadist riwayat Zaid bin Khalid Al Juhani –Radiyallahu anhu-:
سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن لقطة الذهب والورق ؟ فقال : اعرف وكاءها وعفاصها ثم عرفها سنة فإن لم تعرف فاستنفقها ولتكن وديعة عندك فإن جاء طالبها يوماً من الدهر فادفعها إليه. متفق عليه.
Artinya: “Rasulullah -Shalallu alaihi wasallam- di Tanya tentang temuan emas dan perak, maka beliau menjawab: telitilah tali dan bungkusnya, kemudian umumkan selama setahun apabila tak ada informasi apapun maka manfaatkanlah sebagai harta simpananmu. Tapi, Apabila pemiliknya datang maka kembalikanlah kepadanya. (Muttafaq Alaih(
3.  Hewan ternak.
Temuan hewan ternak dapat di klasifikasikan menjadi dua jenis:
Pertama: Hewan yang aman dari binatang buas yang berkeliaran, seperti onta, sapi, kerbau, keledai dan sejenisnya  maka hukumnya dibiarkan sampai ditemukan oleh pemiliknya. Karena hewan jenis ini mampu mencari minuman dan makanan sendiri.
Redaksi jawaban Rasulullah Shalallu alaihi wasallam ketika ditanya tentang temuan onta adalah:
مالك ولها؟  معها سقاؤها وحذاؤها ترد الماء ، وتأكل الشجر ، حتى يجدها ربها.متفق عليه.
Artinya : Apa urusanmu dengan onta itu? air minum dan tapal kakinya ada bersamanya. Dia pun mampu minum air dan makan dedaunan sendiri sampai akhirnya ditemukan pemiliknya.(Muttafaq Alaih)
Kedua: Hewan yang tidak aman dari binatang buas, seperti kambing, kelinci, atau yang sejenisnya maka apabila ditemukan hendaknya dipublikasikan terlebih dahulu. Bila tidak ada klaim kepemilikan maka boleh diambil dan dimanfaatkan dagingnya atau dijual dalam rangka kepentingan pribadi atau disedekahkan ke orang lain. Apabila datang pemiliknya maka wajib dikembalikan atau di ganti dengan harga hewan tersebut apabila sudah di jual atau disembelih. 
Ketika Rasulullah  Shalallu alaihi wasallam ditanya status temuan kambing beliau menjawab :
خذها ، فإنما هي لك أو لأخيك أو للذئب. متفق عليه
Artinya : Ambillah kambing itu, karena ia adalah  hak milikmu, atau hak milik temanmu atau mangsa serigala. (muttafaq alaih)
Demikian beberapa hukum ringkas yang berkaitan dengan benda temuan (al luqothoh) menurut syariat islam. Wallahu A’lam

2 komentar:

  1. Jazakalloh ustadz, informasi ini sangat berharga. Ustadz, bagaimana kalau sesekali ustad menceritakan kondisi Sudan, pengalaman disana, tempat-tempat bersejarah atau bercerita tentang university nya,

    BalasHapus
  2. Searching aja nurin di google udah banyak kok... insya Allah kalau ada yang mau ke Sudan, Dakwah bisa memfasilitasi khususnya dari kader-kader potensial.... S1 gratis dapat makan, asrama gratis, s2 juga ada yang gratis tapi harus tes di sudan.... walaupun begitu kehidupan di sudan lebih sederhana dan suhu yang sangat ekstrim.... jadi harus tahan dan menjaga stok kesabaran...

    BalasHapus